Rabu, 19 Desember 2012

Teguran Untuk Raja yang Angkuh



Dinasti Umayyah di Damaskus, Suriah (41-132H/661-750M) memiliki empat belas raja. Salah seorang diantaranya adalah Hisyam bin Abdul Mlik, raja ke-10. Ia berkuasa pada periode 101-105 H/720-724M dan bersikap angkuh.

Raja Hisyam menerapkan peraturan bahwa setiap orang yang datang menghadapnya harus selalu mengenakan alas kaki.Sang tamu pun harus mengucapkan salam dengan takzim.Tak boleh pula memanggil nama raja,cukup dengan menyebut gelar atau kunyah.Selain itu siapapun tak ada yang boleh duduk di samping raja tanpa meminta izin dan dipersilahkan terlebih dahulu.



Suatu ketika, sang raja tengah berada di Kota Suci “Makkah Almukarramah”.Sekonyong-konyong masuklah Thawus Alyamani, seorang tabi’in(sahabat dari sahabat Nabi Muhammad Saw)keruangannya.Ia masuk tanpa alas kaki dan tanpa mengucap salam.Thawus pun menyebut nama Hisyam,tanpa gelar apa-apa.

Hisyampun marah di buatnya.Ia hampir saja memanggil para pengawal bersenjata jika tak buru-buru di cegah oleh thawus.
“tunggu dulu wahai Hisyam.Aku datang kesini demi kebaikanmu.”
“kebaikan?dengan melanggar segala aturan yang telah kutetapkan?”Hisyam mendelik kesal.

“Dengarlah aku datang tanpa sepatu karena kebiasaanku ketika menghadap Allah Swt,kakiku selau dalam keadaan telanjang.Mengapa engkau sebagai makhluk Allah ingin melebih-lebihkan diri?mewajibkan semua orang yang menghadapmu bersepatu dan menghardik yang tak bersepatu?’

Hisyam terkejut mendengar ucapan Thawus.Ia tercenung dan coba meresapi kalimat-kalimat yang baru saja ia dengar.
“memang aku tidak mengucapkan salam takzim.”serta tidak menyebutmu dengan gelar amiiru-Imu’miniin sebab tidak semua orang rela dengan kepemimpinanmu..Banyak rakyat yang menderita akibat tindakanmu yang hanya memperhatikan kaum elite,kroni,dan saudara-saudaramu untuk hidup bermewah-mewahan.”

Kepala Hisyam tertunduk “Aku juga memanggil  namamu bukan kunyahmu yang penuh arogansi itu.Apalagi Allah swt memanggil  hamba-hamban-Nya yang terkasih dari kalangan nabi dan rasul dengan namanya semata. Seperti”wahai Daud”, wahai Yahya’”wahai Isa,”katakanlah olehmu Muhammad,”dan sebagainya.Malah Allah memanggil musuh-musuh-Nya dan orang-orang durhaka dengan kunyah seperti Abu Lahab yang binasa bersama harta bendanya.Bahkan,istrinya membawa kau bakar neraka dan lehernya terjerat tali sabut..Mengapa engkau ingin di samakan dengan dia?”
Lalu Thawus membacakan surat Al Lahab:

Tabbat yadaa abii lahabi (w)watabb, Maa aghnaa ‘anhu maaluhuu wamaa kasab
Sayarhlaa naaran dzaata lahab, Wamra’atuhuu hammaalatalhathab
Fii jiidihaa hablu(m)mi(m)masad

Hisyam menyadari sekaligus menyatakan penyesalan atas kekhilafan nya selama ini.Ia pun berterima kasih kepada Thawus Alyamani yang telah berani memperingatkan dirinya.sementara orang-orang lain disekelilingnya malah tak ada yang berani.
Sejak saat itulah, Hisyam bin Abdul Malik mengubah kebiasaannya 

Diambil dari :
(H.Usep Romli HM ) Pikiran Rakyat,  Agustus 2012.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Terima Kasih atas Kunjungannya, semoga bermanfaat untuk Kita Semua.

Salam,